damai semut

19.30


Iri rasanya melihat sekelompok semut yang selalu berbaris rapi, bergotong royong memungut butiran gula yang tumpah itu. Semut-semut juga tidak lupa saling memberi salam saat berpapaasan. Butir demi butir mereka kumpulkan bersama, tujuannya tak lain untuk mereka santap bersama kelompok dan tak lupa bersama sang ratu. Nampaknya tidak ada tanda-tanda pertengkaran ataupun permusuhan diantara mereka. Semuanya bekerja sesuai pekerjaannya tanpa saling menjatuhkan satu sama lain. Damai, mungkin itu lebih tepatnya.

Beda dengan manusia. Capek rasanya menghuni dunia ini. Berbaris rapi? Saling salam saat bertemu? Apalagi bergotong royong?! Tidak sudi mungkin baginya. Banyak manusia yang seperti tukang tambal ban. Menebar paku dijalan, dan orang yang tak tau apa-apa terjebak disitu.

Hal sepele yang mereka buat bisa membawa dampak besar. Seperti korban tukang tambal ban, orang yang tidak bersangkutan pun bisa menjadi korban. Ambil saja contoh soal pertemanan. Tidak melihat gender, sering kita lihat beberapa orang kesana-kesini kemanapun mereka pergi selalu bebarengan. Namun suatu ketika ada kesalah pahaman diantara mereka. Hasilnya mereka bermusuhan dan tidak lagi bersama. Orang yang tidak bersangkutan apapun dalam perselisihan mereka menjadi korban. Mungkin hanya karena dia menjadi teman baru dari salah satu mereka yang berselisih. Haha, konyol sekali ya kedengarannya. Tapi itu nyata. Lihat saja sekeliling kalian. Dengan cerita yang hampir mirip pasti ada hal seperti itu.

Ternyata manusia sangat jauh tingkat menghargai sesamanya dibandingkan dengan hewan sekecil semut. Benar-benar malu melihat sekelompok semut di  meja itu.

130313

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe